Hari ini adalah hari kedua ujian nasional bagi siswa SMA
SD dan SMP menyusul kemudian, adik saya yang kelas 6 SD pun akan segera ujian
Tiba-tiba ingatanku menerawang kesaat itu
Saat Ujian Nasional tiba, ada rasa stress melanda
Kekhawatiran terbesar adalah jikalau nanti tidak lulus ujian
Bagaimana jadinya?
Malu pasti, pada kawan-kawan, pada tetangga, terutama pada orang tua
Tak bisa dibayangkan betapa horornya
Jika nama kita terpampang dengan tulisan tidak lulus
Ketakutan itu bahkan membuyarkan fokus pada SPMB
Karena jika tidak lulus, maka tidak ada ujian ulangan
Hanya bisa ikut kejar paket C
Sama saja dengan usaha kita selama 3 tahun akan sia-sia saja
Karena kejar paket C memang (biasanya) untuk yang tidak sekolah di SMA
Perasaan tertekan membuat siswa berbuat segala cara untuk lulus Ujian Nasional
Bahkan dengan mencontek teman atau melihat catatan
Perbuatan yang pertama ini yang paling sering dilakukan
Termasuk saya dulu, saking takutnya tidak lulus, membuat kehilangan rasa percaya diri
Saya pun sempat tengok kanan kiri depan belakang
Jangan hanya salahkan muridnya
Tapi coba lihat lagi keadaan,sistem yang mengharuskan
mempunyai nilai baik disegala mata pelajaran
Bahkan seorang Habibie pun mungkin akan kesulitan menjawab soal
Dari pelajaran yang bukan kesukaannya
Saya pernah mendengar langsung dari Ustadz Herry Nurdi
Seorang penulis jempolan yang mengaku dirinya lemah dalam hal matematika
Bahkan gaya khasnya, beliau mengaku nilai matematikanya tak pernah bagus
Apa ia termasuk orang gagal? Saya rasa tidak.
Karena untuk sukses itu kita hanya perlu satu bidang yang benar-benar kita kuasai
Bukan semua bidang seperti yang diajarkan di sekolah
Manusia ditakdirkan untuk menyukai sesuatu dan tidak menyukai sesuatu
Saya suka menggambar, maka jangan paksa saya jadi seorang dokter
Anda suka matematika, maka saya pun tidak mengharapkan anda jago menggambar
Karena kita punya passion yang kita sendiri sukai
Apa pantas, Ujian Nasional dibuat seperti ini?
Jika gagal maka kiamat kecil bagi yang tidak lulus
Jika gagal, maka di fulan bunuh diri
Apa ini cara mendidik generasi bangsa ini?
Apa pantas, anak-anak sudah disuguhi berbagai standar tang mengekang?
Sejuta pertanyaan untuk carut-marutnya pengelolaan pendidikan negeri ini








